
Auckland
Sudah lama saya tidak pulang ke Palembang, meskipun pada awal tahun ini saya dan keluarga sempat kembali ke Indonesia selama tiga setengah minggu. Dikarenakan jadwal lebih padat di Bali, Jakarta dan Bandung, kami tidak punya waktu banyak untuk kembali ke Palembang dengan ijin visa yang sangat singkat. Padahal saya sudah sering disuntikkan virus ‘Visit Palembang Year’ oleh beberapa teman dengan iming-iming perubahan yang dahsyat di segala bidang, yang membuat saya tertarik kembali ke kampung halaman.
Saya jadi membayangkan jembatan Ampera yang kokoh dengan semarak lampu-lampu jalan yang saat malam hari menawarkan flashy metropolitan image, jalan Sudirman yang mulus dengan air mancur yang bermunculan di pusat kota, menyegarkan suasana yang panas, lalu lintas yang lancar dengan bis-bis yang bebas emulsi, parka-parka jalan yang lugas dan tegas dengan para motoris yang menaati tata tertib serta angkutan kota yang tidak kebut-kebutan berebut penumpang, hotel-hotel profesional yang nyaman dengan cafe-cafe yang menawarkan kreativitas dan profesionalisme dunia kuliner, kantor Gubernur yang asri dan luas, tempat-tempat rekreasi yang terpelihara hijau, indah dan bersih, serta tak lupa empek-empek Pak Raden yang makin enak dan dapat dinikmati kapan saja di sudut-sudut kota Palembang.
Ketika meninggalkan Palembang di awal tahun 2002, saya hanya sempat kembali di tahun 2003. Tidak banyak perubahan yang saya lihat saat itu, apalagi saya hanya singgah sebentar sebelum kembali ke Ubud, Bali sebagai tempat peristirahatan selama berlibur di tanah air. Lalu saya berlompat riang ketika seorang teman blogger asal Palembang mengirimkan email memberitahu sebuah kabar gembira bahwa beliau dan keluarga akan ikut tour 10 hari ke Selandia Baru. Salah satu jadwal beliau adalah berkunjung ke Auckland, yang notabene 1 jam dari tempat tinggal saya dengan jarak kurang lebih 70km. Lebih senangnya lagi ketika beliau menyertakan sebuah pesan bahwa beliau berhasil ‘mengekspor’ kemplang dan kerupuk Palembang alias lulus bea cukai Selandia Baru yang terkenal ruwet dan sangat ketat. What a bonus!

Kerupuk Palembang
Mungkin memang sudah jodoh saya untuk menikmati kerupuk Palembang lagi setelah kurang lebih 6 tahun absen memanjakan lidah saya dengan gurihnya adonan ikan berbumbu yang dipanggang/goreng matang ini. Setelah bertemu selama 2 menit di sela-sela jadwal tour mbak Etty dan keluarga yang padat, kami kembali ke kendaraan dengan kedua tangan saya yang penuh kantung oleh-oleh. Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa pantai untuk mengumpulkan rumput laut yang akan kami gunakan sebagai pupuk di kebun sementara mbak Etty Kesuma (Kesuma = sebutan untuk beliau karena beliau berada dalam jajaran kepengurusan SMU Kesuma Bangsa Palembang) dan keluarga melanjutkan touring di dalam kota Auckland sebelum kembali ke Indonesia.
Sesampainya di Pukekohe, kami memutuskan untuk membeli fish n chips karena sudah senja dan akan telat masak untuk makan malam sesampainya di rumah. Hari itu hari libur dan sepertinya banyak para travelers atau orang-orang seperti kami yang berkendaraan dari tempat-tempat yang jauh, masih berada jauh dari rumah, dan/atau tidak akan sempat masak yang akhirnya musti puas dengan menyantap ikan goreng dibalut tepung panir berbumbu dan sekantung potato chips. Bukan camilan yang sehat jika anda makan setiap hari, dan kami hanya menikmatinya setidaknya hanya satu kali dalam sebulan.
Antrian masih panjang. Saya kembali ke tempat parkir bersama anak-anak dan membuka boot mobil. Mata saya langsung skimming, dan stripping ke satu kantung oleh-oleh dengan kantung oleh-oleh lainnya dan segera berhenti ke sebuah kantung plastik berisi kerupuk Palembang. Alamak! Harum ikan yang khas dipadukan dengan gurihnya bumbu serta pedasnya saus sambal khas Palembang menari-nari di antara taste buds saya, membiasakan rasa yang tidak pernah lagi hadir selama bertahun-tahun. Anda tidak akan pernah tahu apa rasanya rindu jika anda tidak pernah jauh dari orang yang anda cintai atau sesuatu yang anda sering nikmati. Dan, saya jadi mengerti bahwa lidah saya sudah rindu dengan cita rasa khas masakan dan makanan Palembang dan segera indera perasa di lidah saya setuju mengiyakan.
Dari kerinduan ini akhirnya kerupuk Palembang berhasil memanjakan saya melewati saat-saat yang menjemukan dengan membayangkan betapa indahnya nyemil kerupuk di atas sampan menuju floating restaurant di Sukarame. Saya menikmatinya dengan anak-anka saya, dan kami bertiga bergantian merogoh kantung plastik kerupuk dan menikmati isinya satu demi satu dengan serentak menggumam ‘mmm, enaaaaaaaaakkkk.’
Tags: kerupuk
13 komentar
hi hiks ..kalo kirim kerupuk ke Auckland, kurasa lebih mahal ongkos kirimnya dibanding harga kerupuk itu sendiri..
ehh iya kapan mbak posting ttg bikin cake di epalembang. Fotonya ituloh yg bikin ngiler.. ditunggu yaah
hehehe… iya. itu aja kalo mbak Etty dan keluarga ga touring ke NZ ga bakalan deh saya cicipin kerupuk Palembang lagi. Dasar dah jodoh hehehe… bikin cake-nya sabar ya. Ayooo… mo bikin buat istri yaaa? huhuyyy…
eheh belum ada jodohnya mbak…
eh iya ada salam dari temannya, ihh lupa aku… tinggalnya di lemabang, skrng dosen di universitas PGRI.. katanya dulu pernah pinjam buku-buku mbak arfi
gak ap -ap lah jauh tp yang penting kerupuknya itu yang bikin maknyus
Howah,,, 6 tahun ga makan kerupuk? Ga kebayang waktu gigitan pertam : kriuk!
Btw, mbak Etty di cerita itu punya suami bernama Rizal bukan ya? *maaph kalo salah orang
Mbak Etty itu suaminya pak Rudy bukan pak Rizal, ketua SMU Kesuma Bangsa. Kebetulan banyak guru2 di SMU Kesuma Bangsa mantan guru2 saya di Xaverius dulu.
wah … nyampe juga kerupuk di sono.
Rupanya kemplang dan krupuk bisa juga keliling dunia, rasanya iri aku dengan si krupuk, kapan aku bisa jadi kerupuk agar bisa keliling dunia hehehe
salam kenal yuk’…wah kerupuk palembang bisa lolos pemeriksaannya mbak..okelah kalo begitu ntar pas k auckland bisa bawa berarti rencananya maret ini berangkat neh….biar gak kangen masakan rumah bawa kerupuk palembang aja kali ya he..hee
oh? siapakah itu? waaahhhh… jadi pengen pulang ke Palembang dan jumpa temen-temen kuliah dulu ya. mudah-mudahan usia, rejeki dan waktu bisa mempertemukanku dan teman-teman alumni ABA Methodist Palembang. amin.
aku lupa namanya… nanti kalo ketemu tak tanyain lagi deh.. katanya dia belum balikin buku mbak arfi
*aku cuma tahu nama suaminya.. hefrin
dari ABBA ?
kenal ma Rusman ? tinggal di Sekip Madang …
gubrakksss…!! belon balikin buku? jadoooeeellll!! hihihihi… salam be yooo…