Suatu keistimewaan sendiri saya diundang untuk dapat turut menjadi penulis di ePalembang.com. Saya ingin menceritakan salah satu pengalaman dan pandangan saya selama di Malaysia yang ada kaitannya dengan Palembang, kota saya tercinta. Cukup banyak topik yang dapat diangkat menjadi suatu artikel untuk pembahasan yang menarik di ePalembang.com ini dari penulis yang mengambil sudut pandang dari berbagai sisi baik itu Indonesia ataupun Malaysia. Untuk tulisan perdana maka saya hanya ingin memfokuskan kepada hal mendasar terlebih dahulu yang ada kaitannya antara Palembang dan Malaysia.
Semenjak saya kuliah dulu saya sangat berbangga menjadi mahasiswa yang belajar di Malaysia dan berasal dari Palembang. Karena apa? Ada dual hal yang dapat menjadi jawabannya di sini.
Yang pertama dan sangat mudah ditebak adalah karena struktur bahasa yang tidak jauh berbeda. Bahasa dan dialek keseharian Palembang (atau Sumatera pada umumnya) hampir sama dengan bahasa Melayu, Malaysia. Jadi semenjak pertama kali menginjakkan kaki di Malaysia, saya tidak sukar untuk beradaptasi dengan bahasa Malaysia. Lain ceritanya dengan teman-teman saya yang berasal dari Jakarta contohnya. Mereka kebanyakan perlu mengambil waktu berminggu-minggu hanya untuk mengerti percakapan sehari-hari rakyat Malaysia.
Sedangkan yang kedua adalah setiap kali ada orang Malaysia yang menanyakan asal saya dan saya menjawab berasal dari Palembang, maka timbal balas dari penanya tersebut adalah baik dan tidak perlu mengerutkan dahi. Jangan berburuk sangka dulu dengan kalimat saya tersebut. Timbal balas baik dan tidak mengerutkan dahi dari penanya tersebut erat kaitannya dengan nama Palembang yang juga turut masuk dalam pelajaran sejarah rakyat Malaysia semenjak dari sekolah dasar. Jadi mereka cukup menghormati dan kenal dengan Palembang, walau terkadang tidak tahu pasti lokasi Palembang berada dimananya Indonesia. Lain ceritanya kalau saya menjawab berasal dari kota lain seperti Bengkulu, Pontianak, Semarang, Lombok ataupun kota lainnya. Karena pasti kebanyakan dari orang Malaysia tidak mengenal kota-kota lain di Indonesia selain Jakarta, Yogyakarta, Medan, Bandung, Bali, Makasar, Palembang, Aceh dan Padang. Sebagian besar kota-kota tersebut dikenal karena tempat wisata dan ada kaitannya dengan sejarah kebangsaan mereka. Itulah mengapa saya katakan mereka tidak sampai mengerutkan dahi, karena mereka tidak perlu berpikir lagi mengenai nama kota tersebut.

Gambar 1. Peta menunjukan posisi Palembang dan Melaka
Kenapa Palembang sampai masuk ke pelajaran sejarah rakyat Malaysia? Ya inilah hal menarik yang bahkan masih banyak orang Palembang kurang mengetahuinya. Salah satu kota wisata yang juga menjadi kota warisan UNESCO di Malaysia yang bernama Melaka-lah yang menjadi dasarnya. Kerajaan Melaka pada suatu masa dahulu pendirinya adalah Parameswara, Putra mahkota kerajaan Palembang. Kebetulan sekali saya sering mendapatkan tugas keluar kota ke Melaka. Dan pada 29 Oktober kemarin saya berkesempatan membaca buku novel sejarah Kesultanan Melaka (Melaka the Glorious Malay Sultanate, oleh Mansor bin Puteh) di salah satu hotel yang menarik di Melaka. Untuk itu saya ingin menceritakan sedikit mengenai sejarah kerajaan Palembang sehingga terbentuknya kerajaan Melaka dan seterusnya akan menjadi Kesultanan Melaka.

Gambar 2. Novel mengenai sejarah kesultanan Melaka
Sejarah Bermula
Sebenarnya ada beberapa versi mengenai sejarah Parameswara. Sedikitnya yang saya ketahui ada 3 versi sejarah.

Gambar 3. Ilustrasi Parameswara
Versi pertama menurut Sejarah Melayu yang dikarang oleh Tun Sri Lanang adalah bahwa keturunan raja-raja Sriwijaya telah menjadi pemimpin di Temasek (Singapura) semenjak dari tahun 1324 M. Dan Parameswara merupakan Raja Temasek yang terakhir dari keturunan Sriwijaya. Parameswara memimpin Temasek sekitar pada tahun 1399-1401 M sebelum akhirnya kerajaan Majapahit menyerang Temasek. Parameswara yang kalah akhirnya melarikan diri ke Semenanjung Malaysia bersama beberapa pengikutnya.
Versi kedua yang berasal dari cerita sejarahwan Portugis Tome Pires adalah Parameswara merupakan Raja Palembang yang menggantikan ayahnya, Raja Sam Agi. Namun tidak berapa lama setelah itu kerajaan Palembang diserang oleh Majapahit yang dipimpin oleh Raja Batara. Majapahit menyerang Palembang karena Parameswara menggelari dirinya sebagai Mjeura atau orang yang berani. Ekoran daripada itu, Parameswara kalah dan melarikan diri ke Temasek (Singapura) dan lalu menjadi pimpinan sementara Temasek setelah membunuh Raja Temagi yang merupakan utusan kerajaan Siam (Thailand) untuk memerintah Temasek. Tempoh pemerintahan Parameswara di Temasek tidaklah lama karena kerajaan Siam kembali berhasil merebut Temasek dan membuat Parameswara beserta pengikut setianya untuk lari ke Semenanjung Malaysia.
Versi ketiga adalah sesuai dengan novel yang saya baca. Dan berdasarkan itulah saya akan menjabarkannya lebih detil untuk versi ketiga tersebut . Untuk itu dimohon pembaca agar dapat bersabar menanti sambungan dari tulisan ini dalam beberapa hari ke depan.
Telah Terbit: “Asal saya dari Palembang, Encik” – Bagian 2. Silahkan dinikmati !!
16 komentar
hohoho… nice article..
kalo saya kesana nanti saya bilang kalo saya juga dari palembang.. hehehe..
Anda dari bogor pak. :p
Kat mana tuh? tanya tourist guide di Malaysia. Sebelah Jakarta encik jawab pak Ari
cukup panjang bukan.
waah, ternyata palembang terkenal ya di malaysia….masuk sejarahnya lg..
jadi tiba2 bangga jadi pemuda palembang…btw, selamat hari pahlawan.. ^^
Ayo segera rencanakan liburan ke Kuala Lumpur ya. Ajak rombongan pusri lainnya. Saya sudah cukup biasa menjadi tourist guide disini. Sewa saja saya RM100 per hari diluar ongkos,makan, dan tiket wisata
:p
Sememangnya Palembang ini cukup sinonim dgn sejarah Malaysia kerana dari ianya merupakan titik penting Kesultanan Melayu Melaka. Saya cukup hormat sama Aditya kerana beliau cukup utuh dan bangga dari mana asal-usul beliau. Malah sdr Aditya juga adalah teman serumah saya di Malaysia sekarang ini.
Saya dan Syam hanya dipisahkan dinding kamar saja ketika saya menuliskan ini. :p
*back to topic :p
Terima kasih Syam. Ulasan hang membuat saya terharu. (hang=anda/kamu, logat daerah kedah dan Perak, kalau tak silap)
saya sudah tidak sabar membaca bagiuan ke 2 tulisan ini.. kalo ke palembang? jangan lupa bawa bukunya. nanti kita coba adakan bedah buku kecil-kecilan..
Sebenarnya tulisan bahagian ke dua sudah selesai dari semenjak saya menulis tulisan bahagian 1 ini fis.
Tapi karena taktik tetap diperlukan dalam dunia maya. Maka saya menunda dulu terbitnya tulisan kedua. Semoga pembaca tulisan 1 dapat banyak dulu. baru kemudian di publish yang kedua :p
wah alumni UUM?
saya mahasiswa UUM jurusan IT majoring networking sem 5, salam kenal.
hesty juga bangga kuliah disini,
anak palembang juga mendominasi angkatan hesty.
anak palembang pinter-pinter disini,
dan Majalah kampus meng-headline kan “mahasiswa Psd termuda”, 1 perempuan dan 2 laki-laki yang semuanya dari Palembang…sungguh bangga ^^
Wah ada alumni UUM juga disini.
Rajin-rajin berprestasi ya disana. Buktikan anak Indonesia bisa berprestasi di negeri Orang.
^^,
OKeh pak ^^..semangat wohoho~~
haloo bang awang…saya rulli alumni 17 dan mahasiswa IT UUM yg anak praktikum hehe…
memang sangat dikenal pelajar yg berasal dari palembang karena “parasmeswara” nya hehe…
perasaan saya memang banyak orang luar menganggap remeh orang palembang karena dikenal banditnya,tapi asal tau saja bandit yg anda kenal tsb bukanlah asli orang palembang mereka hanya menetap disini, kebanyakan bandit tsb datang2 dari desa2 sekitar palembang, orang palembang pd umunya berbicara terdengar kasar tp pd halnya mereka2 org yg baik,suka menolong,dan suka berbagi kalau berkelahi terang2an tidak menggunakan santet,itu lebih baik, tidak munafik namanya,.,.
asal anda tahu saja anda mudah sekali menyebut nama sultan parameswara dgn mudahnya seolah meremekan!! anda mungkin tidak pernah belajar sejarah sultan parameswara adalah nenek moyang bangsa melayu yg berasal dari kota palembang kerajaan sriwijaya, bangsa melayu tsb trsebar di indonesia,malaysia,brunei,thailand dll, parameswara adalah jendral tersohor pada kerajaan sriwijaya yg tercatat dalam sejarah nusantara,., dia orang yg pemberani prinsip dalam hidupnya adalah “LEBIH BAIK SENGSARA/MATI DI TANAH PENJAJAHAN DARI PADA PULANG KE KEMPUNG MENANGGUNG MALU “
menurut saya malaka sebagiannya adalah masih keturunan orang palembang yg berasal dari kerajaan sriwijaya yg lari ke malaka,.,. palembang adalah kota nenek moyang rakyat melayu yg berasal dari sultan parameswara,.,.
kayaknya menarik tuh,sayajuga mo ikutan dagang ah..
CV.JOKJA MULTI MEDIA temani keceriaan hidup anda