Saya tak hendak mengomentari motto dari epalembang.com yaitu Palembang Tomorrow,Today : Menuju Palembang Kota Internasional, sejahtera dan berbudaya 2013. Karena tentu saja pengelola blog yang juga teman-teman saya ini, pasti punya argument sendiri tentang hal tersebut. Seperti halnya yang pernah diungkapkan oleh Jafis, si Cyber PR situs ini (keren kali jabatanya ya..hehehe), bahwa ini adalah visi pengelola situs yang memang rata-rata orang muda, yang menginginkan Palembang benar-benar maju. Tidak hanya tampilan fisik dengan bertumbuhannya bangunan gedung-gedung perkantoran nan megah, pusat –pusat perbelanjaan, atau tempat-tempat baru yang disulap menjadi indah. Tapi juga pembangunan itu membuat masyarakatnya sejahtera, lebih beradab dan siap menyambut masa depan. Mungkin itu yang saya interperetasikan, suatu kali si Cyber PR berbincang-bincang di kantor saya.
Sekali lagi saya tak hendak mengomentari hal tersebut. Cuma memang saya tergelitik saja dengan hal lain yang sempat saya potret, ketika suatu kali liputan. Saya takut nanti akan ada kesalahan bahasa, sehingga interpretasinya juga bisa beda.
Ketika saya melemparkan foto ini di facebook saya. Cukup banyak yang mengomentari akan adanya kesalahan bahasa itu.
Saya maklum mungkin saat itu event-nya adalah event internasional yang orang asing harus tahu, itulah mungkin visi yang harus dikejar. Kebesaran masa lalu yang kembali ingin diraih.
Bagi saya, masa lalu, masa kini atau masa depan adalah sebuah proses, yang harus kita alami. saya tidak setuju kalau orang selalu bernostalgia dengan masa lalu,misalnya kita selalu membangga-banggakan kehebatan Sriwijaya dan Majapahit. Tapi dimasa kini kita tidak berbuat apa-apa dan cenderung meratapi masa kini yang serba amburadul. Padahal masih banyak yang bisa kita lakukan. Masa lalu adalah jembatan ke masa kini dan masa kini adalah jembatan ke masa depan. Karenanya masa kini kita adalah juga proses, yang 5 atau 10 tahun ataupun dua puluh tahun lagi pasti akan kita kenang. Terlepas kita berhasil atau tidaknya nanti. Yang jelas, spirit harus tetap kita jaga. Saya cuma berharap saja, masa lalu bisa menginspirasi masa sekarang sehinggga menjadi lebih baik
sekali lagi saya sedang tak ingin mengomentari soal bahasa yang digunakan itu, karena Saya bukan pakar bahasa Indonesia, apalagi pakar bahasa Inggris. Tabik.
9 komentar
tetep aja ini bikin malu. Setidaknya koordinator dekorasi acara INTERNASIONAL ini bisa paham bahwa ‘EMPERIUM’ di sana tercetak salah. Kita memang bukan pakar bahasa Mas Daus, tapi akses informasi saat ini cukup banyak untuk memberi kesan objektif atas satu kesalahan. satu lagi, bukankah kamus online gratis saat ini tinggal klik 5 menit cari padanan kata yang benar lalu beres lah sudah. nggak ada ‘EMPERIUM’ yang entah dari mana muasal diksi ini.
to: admin..thks ya..sudah merapikan fotonya.
mudah-mudahan kita juga tidak ikut salah kaprah ..
untuk soal bahasa sepertinya sudah diwakili vira.
untuk soal slogan dan branding tentang propinsi kita tercinta ini, saya merasa tidak adanya terstrukturisasi.. karakter yang dibangun berubah-rubah sehingga tidak mencapai goal yang jelas..
Apabila Pemerintah SUMSEL betul2 menerapkan analisis SWOT .. saya pikir pembentukan citra dan pembangunan karakter akan cepat tercapai dan langkah2nya tepat sasaran..
Semoga pemerintah terus berbenah diri.. Amin
setuju..
setau saya yg umum ditulis ada;ah propinsi atau provinsi …
kalo profinsi belum pernah dengar.
Bukan 5 menit, Mbak Vira, tapi satu. Maks.
Dalam pembuatan desain, typo itu biasa. Hanya saja dalam proses publikasi, proses copy-editing dan proof-reading punya peran yang sangat penting dan mesti dilakukan oleh orang-orang yang tahu apa yang mereka lakukan.
Oke, kita anggap itu terlalu berlebihan untuk sekedar mencetak spanduk, tapi dalam kasus inipun, berapa banyak orang yang terlibat? Mulai dari yang konsep desain, yang membuat desain, yang menyetujuinya, sampai ke yang mencetak. Saat terjadi kesalahan konyol seperti ini dan banyaknya orang yang terlibat dalam prosesnya, kita lantas menyimpulkan dua hal: semua yang terlibat memang tidak menyadarinya atau ada yang menyadari tapi tidak peduli. Dua-duanya mencerminkan masih lemahnya kualitas SDM yang ada.
My two cents.
Andi, mudah-mudahan kita termasuk yang peduli ya..
Saya kok cenderung melihat kalau masyarakat Indonesia sudah ke’bule-bulean’ dengan lebih sering mengungkapkan sesuatu dengan memakai bahasa Inggris. Padahal bukankah katanya negara yang besar adalah negara yang menghormati budaya dan bahasanya? Lah kok kenapa musti pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya kalau bahasa Indonesia masih bisa dipakai? Dalam bahasa gaul sehari-hari saja misalnya, orang lebih suka membahsakan dirinya dengan ‘I’ dan ‘You’ ketimbang saya atau kamu, yang kemudian dilanjutkan dengan bahasa ibu. Udah mau ikutan orang Singapura ya? Mana jati diri bangsa Indonesia?
Setuju Bu..tapi tidak semuanya..loh..mungkin mereka sedikit mengalami benturan budaya…hingga tidak sadr kali..hehehe..