Mendidik Anak melalui Earth Hour

earth-hourSabtu, tangggal 27 Maret 2010, sekitar pukul 20.00, sayup-sayup saya mendengar perdebatan kedua putri saya Megan (6 tahun) dan Tania (5 tahun) di kamar mereka. Tania yang lebih suka tidur dengan lampu menyala, bersikeras agar lampu tidak dimatikan. Megan tidak mau kalah dengan argumennya. Dan yang membuat saya agak kaget, dengan jelas saya dengar Megan mengatakan kepada adiknya: ”dek Nia nih ngga sayang bumi”.

Saya tidak menduga kalimat tersebut terucap dari mulutnya, karena saya sama sekali belum menjelaskan rencana kami untuk mematikan lampu untuk memperingati Earth Hour. Saya menduga mamanya yang menjelaskan ada rencana mematikan lampu untuk menyayangi bumi. Saya semakin menyadari betapa cepat dan mudahnya anak belajar sesuatu dari orang tuanya.

Tepat pukul 20.30, saya mematikan semua lampu dan alat elektronik lainnya dan meminta semua anggota keluarga saya melakukan hal yang sama. Saya kumpulkan keduanya di suatu tempat yang terbuka di salah satu bagian rumah kami. Saya katakan bahwa saya akan menjelaskan sesuatu yang sangat penting. Kedua putri saya semakin penasaran. Megan yang tadinya sudah mau tidur, kembali bangun akibat penasarannya.

Kami bertiga duduk di sebuah beranda belakang dekat taman kecil, Tania seperti biasa, minta dipangku. Megan duduk di samping saya. Saya memulai dengan sebuah pertanyaan. “Siapa yang tahu, kenapa kita matiin lampu? Tanyaku. Saya tengok Tania, dia geleng-geleng kepala. Kutatap Megan yang tampaknya sudah siap dengan jawabannya. “Untuk menyayangi bumi” jawabnya dengan mantap. “Betul sekali”, pujiku. Saya mulai menjelaskan bahwa lampu dan peralatan listrik lainnya menggunakan tenaga listrik yang sebagian besar bahan bakarnya berasal dari minyak bumi, minyak yang diambil dari perut bumi. Jika kita mengambilnya dan menggunakannya terus, lama kelamaan bisa habis. “Jadi kita matiin lampu supaya buminya nanti kuat lagi?” tanya Tania yang sudah mulai paham. Melihat kondisi mereka yang siap diberi sugesti, saya melanjutkannya dengan cerita-cerita lainnya tentang kepedulian terhadap lingkungan.

Pendidikan lingkungan harus dimulai sejak dini dan dimulai dari diri kita dan keluarga kita sendiri. Lingkungan sekitar juga berpengaruh terhadap keyakinan pemahaman lingkungannya, karena itu saya juga merasa perlu mengedukasi teman-teman sepermainannya dengan hal-hal sederhana, seperti buang sampah di tempatnya. Namun bagaimana dengan lingkungan luar yang jauh dari jangkauan saya, seperti teman-teman sekolahnya.  Saya hanya bisa berharap guru-guru dari anak-anakku memahami dan mampu mendidik hal yang sama, demikian halnya para orang tua dari teman-teman anakku. Dan yang terakhir dan tak kalah penting, saya juga berharap kepada para orang tua atau calon orang tua yang hidup di kota atau negara yang sama dengan saya, yaitu anda.

Kembali ke beranda taman belakang, saya meminta kedua putri saya memandang ke langit yang saat itu cenderung lebih terang dari pada sebelumnya. Cahaya rembulan yang sebagian tertutup awan pun terlihat lebih benderang. Mereka mulai menyadari dengan mematikan lampu di malam hari, mereka dapat melihat langit dengan lebih jelas. Saat itu saya ingin menjelaskan kepada mereka, dibalik sesuatu pasti ada hikmahnya.

Selanjutnya saya ajak mereka masuk ke dalam rumah. Suasana sangat gelap, sehingga kami harus berpegangan. Saya minta mereka duduk dan memejamkan mata sejenak. Lalu saya katakan kepada mereka, bahwa pada saat mereka membuka mata, semuanya akan menjadi lebih terang dan kita bisa melihat semua yang ada di sekitar kita. Mereka mulai membuka matanya dan merasa takjub. Saya tanyakan kepada meraka, apa saja yang bisa mereka lihat. Tania dengan semangat menyebutkan semua benda yang dia lihat yang sebelumnya gelap. Saya tanamkan kepada mereka, bahwa dalam kondisi darurat, kita bisa menggunakan indera kita secara lebih maksimal, sehingga kita tidak perlu takut.

Satu jam tidak terasa telah berlalu, kami mulai menyalakan lampu-lampu yang masih diperlukan. Megan dan Tania kembali ke kamarnya untuk tidur. Sekarang tidak terdengar lagi debat kusir tentang hidup atau mati sebuah lampu. Dan kondisi segelap apapun, mereka masih bisa mengatasinya. Secara perlahan, saya akan terus menanamkan nilai-nilai kepedulian, kebersahajaan serta pencarian hikmah kepada anak-anak. Dan mudah-mudahan, dalam kondisi apapun kondisi keluarga kami, hal itu bukan masalah besar bagi mereka dan tetap membuat mereka bahagia. Sehingga kami bisa hidup dengan tenang dan bahagia, tanpa harus memiliki tabungan sebanyak 25 miliar rupiah hasil korupsi dan untuk kepentingan pribadi ;-)

Tags: ,

2 komentar

  1. Nice, moga setiap orang tua bisa mendidik anak untuk mencintai lingkungan :-)

  2. suzan

    waduh … jadi haru membaca tulisan ini, mengajarkan kebaikan dari hal kecil dan sejak dini akan memberikan dan menanamkan hal tersendiri bagi anak

Beri komentar