Perempuan dan HIV

HIVPanggil saja namanya Bunga, perempuan ini saya temui pada saat saya mendampingi kunjungan dari perwakilan salah satu badan PBB yang ada di Indonesia ke tempat perkumpulan perempuan yang terinfeksi HIV. Berbeda dengan beberapa perempuan terinfeksi HIV yang saya temui, Bunga nyata-nyata menunjukkan gejala orang yang sudah sampai ke tahap AIDS. Kalimat tulang hanya berbalut kulit nyata-nyata nampak pada dirinya, in  literally. Berat badannya mungkin hanya 30 kilogram. Dia jauh nampak lebih tua daripada ibunya yang dengan setia mendampinginya.

Dan ketika saya bercerita dengan salah seorang teman tentang keadaannya, sang teman langsung berkomentar “Pasti dia perempuan nakal, kalau tidak, mana mungkin dia bisa tertular HIV”. Saya cuma tersenyum miris mendengar komentar teman saya tersebut. Dan hal ini membuat saya sadar kalau memang benar, perempuan yang terinfeksi HIV akan mengalami double stigma. Stigma yang pertama adalah  “HIV adalah penyakit yang sangat menular oleh karena itu, jangan dekat-dekat dengan orang terinfeksi HIV” sementara stigma yang kedua adalah “pasti dia bukan perempuan baik-baik”, dalam kasus Bunga, suaminyalah yang menularkan HIV kepadanya. Dan ibu Bunga menceritakan kalau pada saat ditemukan, kondisi Bunga sudah hampir koma sementara anaknya yang baru dua bulan meninggal dunia akibat AIDS. Bisa dibayangkan jika kita berada di posisi Bunga, dia istri baik-baik yang tidak pernah berselingkuh dengan siapapun, tetapi tertular HIV hanya karena ulah suami yang memakai narkoba/berselingkuh dengan pekerja seks. Apakah kita masih bisa mencap Bunga sebagai perempuan tidak baik?

Bunga beruntung, orangtuanya berada di sisinya dalam keadaan paling sulit dalam hidupnya. Ibunya bersedia menemaninya ke manapun, termasuk berobat ke rumah sakit ataupun sekadar curhat ke buddy (pendamping ODHA).

Masih banyak perempuan yang terinfeksi HIV yang dikucilkan oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya hanya karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang HIV dan AIDS. Masih banyak yang tidak tahu kalau HIV tidak akan menular kalau hanya bersalaman, makan di piring yang sama ataupun tinggal di rumah yang sama.

Dan guess what, Bunga tidak tinggal di Jakarta ataupun di Papua, di mana kasus HIV dan AIDSnya tertinggi di Indonesia. Bunga tinggal di Palembang dan saya bisa meyakinkan anda, masih banyak Bunga-Bunga lainnya di Palembang. Yang sudah diketahui statusnya dan oleh karena itu mengalami diskriminasi oleh semua orang termasuk para petugas kesehatan, yang sudah diketahui statusnya tetapi takut untuk memberitahukan ke orang lain karena takut didiskriminasi oleh orang sekitar dan HIV positif tetapi tidak mengetahui statusnya karena ketidakpahaman mereka tentang HIV dan AIDS itu sendiri.

Banyak perempuan baik-baik yang terinfeksi HIV dari suaminya. Ada banyak kasus di Palembang di mana si istri tidak tahu kalau suaminya sudah terinfeksi HIV sebelum menikah  sehingga istrinyapun terinfeksi HIV dan karena ketidaktahuannya itu, anak-anak mereka pun HIV positif.

Jadi, tolong jangan diskriminasi mereka. Kalaupun ada teman ataupun keluarga yang ternyata terinfeksi HIV, jangan jauhi mereka. Dukungan dari kita semua akan membantu mereka menjadi lebih kuat dalam menjalani hari-hari mereka.

Sumber foto : http://spiritia.or.id/

Tags: , ,

Beri komentar