HIV Dan AIDS Di Palembang

stophivSituasi HIV dan AIDS di kota Palembang semakin meningkat dari tahun ke tahun. dari pada awalnya hanya satu orang di tahun 1996 meningkat menjadi lebih dari 300 orang di tahun 2009.

Masalah HIV dan AIDS tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah sebagian orang saja. karena di Palembang, kasus HIV dan AIDS tidak hanya terjadi pada kelompok yang dianggap berisiko tinggi seperti kaum waria, pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. saat ini, kasus HIV dan AIDS juga terjadi pada orang yang dianggap tidak mungkin tertular seperti pada kelompok istri dan anak-anak.

lantas, bagaimana dengan akses bagi setiap orang di Palembang? Palembang termasuk beruntung karena mendapatkan bantuan dari Global Fund yang sampai saat ini menjamin tersedianya akses universal bagi setiap orang. sebagai contoh, sejak tahun 2005 telah tersedianya pelayanan Voluntary Counseling and Test (VCT) atau tes HIV secara sukarela di beberapa rumah sakit di Palembang, selain itu, prevention mother to child transmission (PMTCT) atau pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak juga telah tersedia di RMSH Palembang. berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, ada 2 orang ibu yang telah memanfaatkan layanan ini. Selain itu, akses terhadap anti retro viral (ARV) tersedia dengan mudah. saat ini, pemerintah menyediakan ARV secara gratis kepada semua ODHA yang membutuhkan ARV.

Akses terhadap informasi HIV dan AIDS juga telah dikembangkan, meskipun lebih difokuskan pada kelompok yang dianggap berisiko tinggi, akan tetapi informasi tentang HIV dan AIDS juga diberikan kepada populasi umum melalui pemberian informasi di radio dan televisi oleh Komisi Penanggulangan AIDS kota Palembang.

Tantangan lain yang dihadapi kota Palembang adalah seiring dengan meningkatnya jumlah penderita HIV dan AIDS adalah adanya stigma dan diskriminasi dari masyarakat terhadap para Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Seringkali, stigma dan diskriminasi ini berujung dengan pengusiran ataupun tindakan yang akhirnya merugikan ODHA. Sebagai contoh, akibat adanya stigma dan diskriminasi, ODHA diusir dari kampungnya ataupun tidak dilayani dengan baik oleh tenaga medis.

dengan pemberian informasi yang terus-menerus diharapkan masyarakat mendapatkan informasi yang benar tentang HIV dan AIDS sehingga tidak ada lagi ODHA yang didiskriminasi. oleh karena itu, setiap orang berhak untuk mendapat akses ke informasi tentang HIV dan AIDS. dan tugas ini, tidak bisa dibebankan ke lembaga swadaya masyarakat ataupun dinas kesehatan saja. yang paling penting, ini adalah tugas semua pihak terutama pemerintah kota

Di masa yang akan datang diharapkan akses universal tersedia di kota Palembang. bukan hanya VCT, PMTCT ataupun ARV. Diharapkan semua akses yang mendorong terjadinya penurunan kasus baru di Palembang dapat tersedia.

selamat Hari AIDS 2009, perjuangkan akses universal maupun hak asasi manusia.

Sumber Gambar : bakudara.com

Tags:

4 komentar

  1. apakah jg bisa dibilang dengan meningkatnya penderita aids di palembang juga sebagai dampak dari transisi kota palembang menjadi kota metropolis layak nya kota jakarta?

    • Kepada ayahsiva … menurut saya HIV tidak memilih lokasi penularan dan tidak berpengaruh pada transisi kebudayaan atau pun perkembangan peradaban …

      HIV HANYA secara SEDERHANA menular melalui perpindahan darah, cairan sperma dan cairan vagina dari seorang pengidap HIV/AIDS kepada orang lain. Jadi penularannya terjadi melalui :
      a. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS tanpa memakai kondom
      b. Transfusi darah dengan darah yang sudah terpapar HIV
      c. Jarum suntik dan benda-benda tajam lainnya bekas dipakai oleh pengidap HIV tanpa disterilisasi dengan benar
      d. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat juga menularkan kepada janin di dalam kandungan melalui plasenta atau saat persalinan

      Dapat kita contohkan penularan HIV di propinsi Papua lebih tinggi dari pada penulatan di Bali padahal kita tahu bahwa bali lebih maju dan lebih kompleks masyarakatnya dibandingkan papua

  2. Yang mengkhawatirkan juga adalah layanan kesehatan yang tidak memperhatikan kemungkinan infeksius dari alat-alat yang digunakan. Misalnya, apakah masih terselip virus diantara peralatan ketika di dokter gigi? Apakah mereka menggunakan suhu dan tekanan tinggi untuk sterilisasi alat atau cuma cuci saja. Juga di laboratorium rumah sakit, apakah mereka menggunakan jarum baru ketika dilakukan pemeriksaan darah? Juga bagi anak-anak SD yang sering gunting kuku oleh gurunya. Bukan cuma HIV tetapi juga Hepatitis. Thanks.

  3. suzan

    semoga kita semua tidak menghindari mereka yang menderita, saatnya kita menggandeng mereka agar mereka tidak merasa termarginalkan

Beri komentar