Satu hal mencolok yang saya lihat dari sisi pelaku usaha tentang kota Palembang baik sebagai kota mandiri maupun corong dari Sumatera Selatan dibanding kota-kota besar lainnya di Indonesia adalah lemahnya sektor industri swasta. Sektor pemasukan dari sektor real sampai saat ini masih sangat bergantung pada hasil eksplorasi hasil minyak dan tambang serta sektor pertanian dan perkebunan.
Untuk industri besar indikasi paling nyatanya adalah belum adanya kawasan industri terpadu di sekitar Palembang, seperti Kawasan Industri Sunter dan Pulo Gadung di Jakarta, Cikarang di Jawa Barat, KIMA di Makassar, Rungkut di Surabaya, dan lain-lain. Memang sih ada indikasi Tanjung Api-Api akan diarahkan ke arah sana, tapi sampai saat ini kabarnya masih simpang siur.
Sedangkan untuk industri kecil dan menengah sampai saat ini pertumbuhannya sangat lambat. Pertumbuhan disini baik dari segi jumlah, teknologi, serta jenis industrinya. Hal ini bisa dilihat dengan masih mendominasinya industri berbasis tradisional seperti songket, ukiran kayu, jumputan yang juga masih menggunakan teknologi dan manajemen tradisional.
Walaupun kenyataannya dengan kondisi saat ini Palembang dan Sumatera Selatan umumnya bisa dikatakan daerah yang kaya di Indonesia, akan tetapi sebenarnya potensinya jauh lebih besar apabila bisa lebih dikembangkan secara tepat. Dan selain itu tentu kalau kita tidak mencari inovasi dan terobosan baru, apalagi masih terbuai dengan hasil minyak dan tambang walaupun mungkin masih lama tapi pasti akan menemui titik jenuh.
Masalah jenis industri ini juga sebenarnya tidak bisa asal membandingkan dan mencontoh daerah lain, karena tentunya harus disesuaikan dengan potensi dan kondisi Palembang saat ini. Saya sendiri melihat bahwa salah satu industri yang sangat mungkin diterapkan di Palembang adalah industri kreatif yang salah satunya adalah Teknologi Informasi (TI).
Dari potensi pasarnya industri ini juga sangat besar dan luas. Sekedar memenuhi pasar lokal saja sudah sangat besar, apalagi jika bisa sampai bermain di pasar global yang sangat dimungkinkan dengan adanya teknologi internet. Sedangkan apabila ditinjau dari sisi modal dan sarana prasarana yang dibutuhkan juga sangat variatif sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.
Mungkin tantangan paling besar dalam industri ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM), namun saya yakin akan terpenuhi perlahan seiring dengan adanya industri. Untuk tahap awal mungkin Palembang akan mendatangkan beberapa tenaga ahli dari luar, akan tetapi jika ditangani dengan serius maka sangat mungkin sekali lingkungan industri ini akan memacu dan merangsang terciptanya SDM-SDM yang mumpuni dibidang TI ini.
Sekedar contoh kasus kita mungkin bisa mencontoh industri TI di India yang tidak sedikit berasal dari industri rumah tangga dengan modal yang tidak lebih besar dari membuat warung makan. Pemerintah bisa membatu dengan menciptakan suasana lingkungan yang mendukung, seperti kemudahan perijinan, bantuan pelatihan manajemen, pameran, dan lain-lain.
Nah sementara sampai disini dulu, dan sebagai tulisan berseri tulisan ini hanya pembuka wacana dan sangat butuh masukan untuk bahan diskusi selanjutnya. Jadi sekarang jika ada ide, tanggapan dan bantahan silahkan didiskusikan di kolom komentar.
8 komentar
“Dari potensi pasarnya industri ini juga sangat besar dan luas. Sekedar memenuhi pasar lokal saja sudah sangat besar, apalagi jika bisa sampai bermain di pasar global yang sangat dimungkinkan dengan adanya teknologi internet. Sedangkan apabila ditinjau dari sisi modal dan sarana prasarana yang dibutuhkan juga sangat variatif sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.
Mungkin tantangan paling besar dalam industri ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM), namun saya yakin akan terpenuhi perlahan seiring dengan adanya industri. Untuk tahap awal mungkin Palembang akan mendatangkan beberapa tenaga ahli dari luar, akan tetapi jika ditangani dengan serius maka sangat mungkin sekali lingkungan industri ini akan memacu dan merangsang terciptanya SDM-SDM yang mumpuni dibidang TI ini.
Sekedar contoh kasus kita mungkin bisa mencontoh industri TI di India yang tidak sedikit berasal dari industri rumah tangga dengan modal yang tidak lebih besar dari membuat warung makan. Pemerintah bisa membatu dengan menciptakan suasana lingkungan yang mendukung, seperti kemudahan perijinan, bantuan pelatihan manajemen, pameran, dan lain-lain.”
saya mengutip di atas saya melihat SDM palembang cukup tetapi NEPOTISME yg cukup kuat yg membuat palembang sulit berkembang industri ITnya. tidak usah saya sebutkan contohnya. CMIIW
Makanya ayo dibudayakan wiraswasta, kan kalau nepotisme untuk perusahaan punya sendiri boleh-boleh saja, kalau rugi karena tidak profesional kan rugi sendiri
.
Btw, ditunggu masukan dan karya nyata Mas Wicaksono Arif Satrio untuk bisa menjadi salah satu perintis bisnis IT di Palembang dan juga tentunya pemberantasan NEPOTISME dkk
.
Wah… 2 jempol dah buat mas bair atas semangatnya mengkritisi dan mengembangkan IT di palembang. Hm,jadi pengen juga nulis di sini,mungkin bisa jadi wacana. Tapi tentu saja sesuai dengan background saya,agar bisa jadi wacana dan syukur2 memberi dampak positif ke depan. Amin.. Salam kangen…
@Firdaus: Iya,mencoba ikut memberi sumbangsih sesuai dengan kemampuan kita.
Oh iya kalau Kak Daus ingin jadi kontributor, ePalembang.com sangat senang dan terbuka, untuk syaratnya langsung aja lihat di halaman ini. Kalau ada yang kurang jelas, langsung ditanyakan aja
.
Palembang dengan segala bentuk peluang yang ada di dalamnya menyimpan potensi bagi mata yang melihatnya.saya setuju dengan tulisan Bair di atas bahwa tidak cukup hanya dengan berpaku dengan sektor yang selama ini ada. perlu ada sektor-sektor lain yang di kembangkan di palembang ini.Pertanyaannya yang muncul kemudian usaha apa? dan peluangnya bagaimana? kemudian berlanjut ke berapa modalnya ?
Jawabnya….. ada pada diri kita masing-masing.
Membangun industri kreatif itu nggak cukup dengan teriakan “Bangunlah Industri Kreatif , hayo… bangun …. “tetapi perlu diberikan pelatihan pelatihan spesifik,karena industri kreatif berbasis TI masih merupakan hal baru bukan hanya di palembang tapi di Indonesia. Contoh sederhana topik pelatihan adalah : Menjual Toko Kemplang Online bermodal 3 juta rupiah “atau ” Dengan 12 juta berjualan bandwidth, atau Membuat Toko Pesan Online Industri Ukir Palembang .dll….nah konsep konsepini yang harus diorganisir oleh pegiat IT dipalembang . aku punya pengalaman membuat pelatihan pelatihan TI gratis di Bekasi …. contohnya ini : http://www.youtube.com/watch?v=468xij_3EC0 , aku pendiri komunitas ini . Kalau ingin berbagi pengalaman silakan kirim email ke : plerz@yahoo.co.uk …. atau google: PLERZ atau Margahayu Network Community ….
ini juga salah satu kegiatan kami : http://www.youtube.com/watch?v=9PYoOqYBw-I
Saya setuju sekali dengan komentar PLeRZ. Membangun industri kreatif memang sangat tidak cukup hanya dengan himbauan, slogan dan konsep saja, perlu ada tindakan nyata dalam berbagai aspek, termasuk di dalamnya bagaimana merubah pola pikir dan karakteristik umum kita yang takut berwirausaha, inferior terhadap bangsa lain dll.
Terus terang saya sangat kagum dengan orang-orang yang punya semangat dan usaha untuk memberi berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk sesama, seperti yang teman-teman di Bekasi lakukan.
Selanjutnya mudah-mudahan kedepan kita bisa sharing ilmu dan pengalaman berkaitan dengan kegiatan di daerah kita.
Terima Kasih
maaf pak tanya dong apa sih bagian” sektor industri?
dan yang termasuk dalam sektor industri itu ap” ajah?
tolong dong ada PR nie =.=