Mengkonsep Industri TI di Palembang – Bagian II

Untuk lanjutan tulisan berantai saya sebelumnya tentang mengkonsep industri Teknologi Informasi (TI) di Palembang, pada bagian II ini saya akan mencoba memancing tanggapan dari teman-teman pembaca dengan mengutip secara singkat kisah  inspiratif di bidang TI yang kondisi dan latar belakangnya tidak jauh berbeda dengan kondisi kita di Palembang.

Bangalore - Silicon Valley-nya India

Bangalore - Silicon Valley-nya India - Gambar diambil dari http://trendsupdates.com/bangalore-in-news-for-the-right-reasons/

Kisah pertama dimulai dengan kisah dibalik titik kebangkitan industri TI India, negara yang kondisi negaranya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan kita di Palembang, menjadi salah satu pusat TI di dunia. Kisah yang dikutip dari artikel di website Ristek ini, menceritakan bahwa mulai banyaknya perhatian dunia barat terhadap TI India salah satunya berawal dari banyaknya programmer Bahasa Cobol atau bahasa komputer mainframe lainnya di India pada saat yang tepat yaitu ketika isu Y2K menerpa dunia.

Perlu diketahui bahwa pada waktu itu sebenarnya bahasa Cobol sudah termasuk bahasa yang ketinggalan zaman, yang sudah sangat jarang dipelajari oleh para pelajar atau pekerja TI di negara-negara maju. Sebaliknya berbeda dengan di AS dan Eropa, di mana teknologi mutakhir seringkali bermunculan dan dihasilkan, di India mempelajari program perangkat lunak kebanyakan berarti menguasai bahasa program seperti Cobol atau bahasa komputer mainframe lainnya yang sudah ketinggalan zaman. Hal ini disebabkan karena fasilitas infrastruktur serta keterbatasan akses ke teknologi dan ilmu TI terbaru pada waktu itu, berbeda dengan sekarang dimana dengan adanya internet pertukaran informasi dan teknologi bisa sangat mudah dan cepat.

Akan tetapi keseriusan para pelajar dan pekerja TI India belajar dan bekerja keras di tengah keterbatasan terbayarkan ketika mulai ditemukan persoalan Y2K bug pada pertengahan 1990-an yang menyebabkan terjadinya histeria massal karena ketakutan kalau seluruh komputer mainframe yang digunakan bank, perusahaan penerbangan, asuransi, dan usaha eceran akan menjadi tidak berguna pada pergantian abad tahun 2000. Orang-orang Barat mulai mencari mereka yang terbiasa bekerja menggunakan bahasa Cobol dan bahasa program kuno lainnya. Mereka diperlukan untuk menulis kembali kode-kode program komputer mainframe yang banyak digunakan di negara-negara Barat.

Dan, hanya ada satu negara yang mengalokasikan para penulis kode Cobol dalam jumlah yang banyak, India. Sehingga, secara otomatis perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Fortune 500 di AS dan Eropa, mulai melirik India sebagai tempat untuk memberikan solusi sistem ketahanan Y2K yang efektif dan murah. Ini artinya pekerjaan bagi ribuan orang India, dan langsung melahirkan sebuah industri yang menguntungkan, dan hal itu berlangsung setidaknya sampai sekarang. Jangan dibayangkan semua perusahaan dan industri TI di India pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang dimulai dengan perusahaan besar dengan cadangan modal yang besar, sebaliknya kebanyakan bahkan dimulai dengan industri kecil bahkan masuk kategori industri rumahan dengan modal yang tidak besar.

Kisah yang kedua adalah tentang kisah 3 anak muda Steve Chen, Chad Hurley dan Jawed Karim yang merancang dan mengembangkan Youtube di garasi Chad, dan dimulai dengan kondisi seadanya. Akan tetapi dengan kerja keras, keyakinan dan kemampuan mereka, akhirnya Youtube menjadi website yang sangat sukes dan menarik perhatian banyak pihak. Begitu populernya website ini, sampai raksasa Google membelinya dengan harga US$ 1.65 Milyar. Angka yang besar, sukar disimak kalau tidak dibandingkan dengan angka lain. Sebagai perbandingan, Wal-Mart dari Amerika membeli suatu jaringan hypermarket di Cina dengan harga US$ 1 Milyar, menjadikannya hypermarket yang bisa mengalahkan Carrefour di Cina, negara dengan pasar terbesar di dunia. Tahun lalu perusahaan kosmetik L’Oreal membeli The Body Shop dan Anita Roddick bersama suami menerima USD 1.4 Milyard.

Sedangkan kisah ketiga adalah yang yang paling dekat dengan kita di Palembang, yaitu kisah Hernando Ramsis, Lulusan SMA asal Belinyu (Babel), yang belajar otodidak desain dan animasi digital yang saat ini sangat terkenal dengan website orangedan.net. Jika kita lihat portofolionya saat ini hasil kerja dan kliennya sangat banyak, mulai dari perusahaan-perusahaan besar dalam negeri sampai luar negeri.

Saya yakin di luar sana masih sangat banyak kisah lain yang memberikan gambaran bagaimana peluang di industri TI yang termasuk industri kreatif sangat mungkin dikembangkan di berbagai tempat dengan berbagai kondisi termasuk Palembang. Di semua kisah sukses diatas terlihat bahwa, modal dasar adalah kemauan, ide, ilmu dan ktreatifitas jauh lebih penting ketimbang dukungan modal besar dan sarana prasana hebat. Cuman tentu saja, pasti akan jauh lebih baik dan membantu jika kondisi sekitar juga sangat kondusif dan mendukung :D .

Nah sekarang bagaimana dengan kita di Palembang, apakah kita siap membuat kisah berikutnya?

Tags: ,

6 komentar

  1. nice inpoh, intinya kita harus bekerja keras dan idealis terkadang di perlukan, jangan mudah di bawa arus. tetap pada pendirian….

    • subair

      Iya, di sistem pendidikan kita masalahnya mental dan karakter banyak yang dimatikan, atau lebih tepatnya diseragamkan. Belum lagi lingkungan yang masih belum terlalu mendukung terobosan baru dan kewirausahaan.

      Tapi kalau tentang ikut arus menurut saya, itu sih tergantung arusnya membawa ke tempat yang kita inginkan atau tidak :) .

  2. Aku pikir, palembang biso mempertimbangkan untuk mengembangkan palembang sebagai it city. Bangun ifrastruktur IT yang OK, bangun sistem transportasi yang terintegrasi, jago keamanan, jago kebersihan, bangun infrastruktur fisik, listrik, banyu dll. Dengan ini kito biso nawarin palembang kepada perusahaan multinasional untuk menjadikan palembang sebagai homebase mereka untuk area sumatera, atau indonesia atau mungkin asia tenggara … atau APAC?

    Bayangkan kontribusi yang biso didapet palembang dari ide ini? Kito menjual sesuatu yang renewable karena kito dak tergantung dengan hasil alam secara langsung :)

    • subair

      Iya, pikiran saya juga begitu Pak, bahkan jauh lebih simple dari itu, walaupun sangat mungkin menarik perusahaan multinasional dan bertarung secara global, tapi saya rasa di awal cukup swasembada TI aja, yang bisa dikerjakan oleh lokal secara profesional, kenapa harus ambil dari luar.

      Selanjutnya apabila dikelola dengan baik, insyaAllah pasti sangat besar manfaatnya.

  3. tapi menurut penulis apa kita telah tertinggal jauh sekarang??

    • subair

      Ternyata kelewatan komentar dari Satrio yang ini :) .

      Kalau baca dari ulasan diatas, penyebab ketertinggalan kita ya.. karena kita sendiri :) . Intinya kalau mau sukses, harus berusaha, dan jangan menjadikan kambing hitam keadaan, toh banyak juga yang sukses dengan kondisi yang bahkan lebih buruk dari kita.

Beri komentar