Bijaksana Ber-Facebook

“Hari gini gak punya Facebook?” Aduh, jadul banget deh. Inilah kenyataannya karena boleh dibilang hampir semua orang memiliki facebook, mulai dari ABG hingga orang tua berumur 50 tahunan juga punya facebook. Bahkan GIGI pun meluncurkan lagu My Facebook. Apalagi saat ini warnet sudah menjamur dan biayanya juga murah, jadi bagi yang punya kocek sedikit bisa ke warnet, ataupun hampir di setiap mall ada koneksi Wi-Fi bisa mengunakan laptop atau handphone yang ada fasilitas Wi-Fi nya, termasuk gadget yang kini dilengkapi dengan fasilitas untuk koneksi internet.

Semuanya memang berawal dari facebook, banyak yang mengaku ketagihan dengan Facebook. Apa ??? Ketagihan … Aduh koq serem banget, ya iyalah ada yang bisa menghabiskan waktu satu hari hanya demi mengotak – atik facebook, entah update status, menjadi lurker melihat – lihat facebook teman, melihat foto, memberi komentar hingga chatting.

Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg, seorang programer komputer dan pengusaha asal Amerika. Tujuan awalnya adalah sebagai media untuk saling mengenal antar sesama mahasiswa Harvard. Dalam waktu dua pekan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki akun di facebook. Tak hanya itu, beberapa kampus lain di sekitar Harvard pun meminta untuk dimasukkan dalam jaringan facebook dan akhirnya berkembang luas seperti sekarang. Dalam perkembangannya, saat ini diperkirakan terdapat penambahan sekitar 100.000 akun baru setiap harinya di seluruh dunia. Lebih 25 juta pengguna aktif diperkirakan juga menggunakan facebook setiap harinya. Facebook memang diakui berguna untuk menemukan teman-teman yang tercecer. Banyak dari para pengguna Facebook yang akhirnya berhasil menemukan teman-teman bahkan mantan pacar di masa lalu. Hal ini menambah nilai tambah bagi Facebook. Facebook pun ternyata tidak hanya digunakan mencari teman, bahkan situs jejaring ini pun dibuat untuk beriklan serta berkampanye. Presiden Amerika Barrack Obama adalah Presiden pertama yang memanfaatkan Facebook untuk kampanye via internet, dan kini banyak capres-capres yang mengekor tindakan Obama tersebut.

Tapi kini berhati – hatilah menggunakan facebook-mu, karena “statusmu adalah harimaumu”. Contohnya kasus Evan oknum Brimob Polda Sumsel yang jadi bulan-bulanan di dunia maya dan akhirnya berujung dengan pemeriksaan Evan karena memberikan status yang dinilai provokatif. Alih-alih jadi pujaan Evan malah menerima Cacian.

Di dinding Facebooknya, Evan Brimob menulis : ”polri gak butuh masyarakat…tapi masyarakat yg butuh polri….maju terus kepolisian indonesia, telan hidup2 cicak kecil”. Status Evans, ditengah kisruh hubungan Komisi Pemberantasan Korupsi – Mabes Polri dan Kejagung seakan menyiram bensin ke bara api.

Tak selamanya curhat di situs jejaring sosial macam Facebook mampu membuat hati plong. Jangan terlalu banyak mengumbar permasalahan via Facebook dan media lainnya seperti SMS atau e-mail, karena malah bisa berujung depresi. Kini banyak Negara mulai melarang warganya untuk membuka facebook, karena berbagai dampak yang diberikan facebook. Pasalnya banyak waktu terbuang, dengan banyaknya fasilitas di facebook, mulai dari chatting hingga games membuat pengguna Facebook enggan terlepas dari komputer, laptop, handphone, dan gadget yang mampu mengakses Facebook. Selain itu banyak kasus terjadi hanya karena status di Facebook, “statusmu harimaumu”. Sudah banyak kasus terjadi karena status seperti pencemaran nama baik, perceraian, pemecatan hingga pembunuhan.
Walaupun hal ini terlihat sepele, namun mulai banyak kasus bermunculan karena Facebook. Bijaksanalah dalam menggunakan Facebook.

3 komentar

  1. subair

    Prinsip dasarnya kita harus selalu berlaku bijak dalam segala hal, termasuk internet. Dunia maya prinsipnya sama seperti dunia nyata, fitur anonimitas di internet tidak bisa dijadikan alasan berbuat sesukanya.

    Tentang efek buruk facebook, saya melihatnya mirip seperti pisau, kita bisa pakai untuk hal yang bermanfaat seperti membantu pekerjaan di dapur, maupun hal negatif seperti menodong. Jadi tergantung siapa yang menggunakan facebook.

    Tugas kita sekarang, berusaha memberi pengaruh positif dan edukasi terhadap orang sekitar kita agar dapat menggunakan facebook sejara bijaksana seperti pesan tulisan Suzan.

  2. suzan

    marilah kita belajar lagi untuk menghormati sesama dan diri sendiri

  3. Arfi Binsted

    Selama ini saya hanya menganggap Facebook sebagai ajang silaturahmi dengan teman-teman lama, dan linkage dalam food bloggers networking. Saya sudah bergabung di Facebook sejak 2007, dan saat itu tidak banyak orang Indonesia yang ada di FB, tapi banyak bertebaran di Friendster dan Multiply. Saya meninggalkan FB dan kemudian masuk lagi tahun ini. Banyak sekali perubahan dan makin banyak orang-orang Indonesia yang memakai FB sebagai jalur pertemanan online.

    Saya sendiri berhati-hati menerima friend request. Jika tidak kenal, saya tolak. Saya hanya comfortable dalam lingkup teman-teman dekat saja, makanya kontak saya lambat merangkaknya. Buat saya teman bukan dilihat dari jumlah tapi kualitasnya :)

    Be wise, nice article.

Beri komentar