Siapa yang tidak mengenal kota Palembang, istilah tujah, wongkito galo, dan ado gawe seperti menjadi ikon kota pempek ini.
Kota Palembang termasuk salah satu kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya yang dibentuk pada 16 Juni 682 Masehi dan akhirnya ditandai sebagai lahirnya kota Palembang.
Berdasarkan sejarah, pada periode 850 – 1025 Masehi, Palembang merupakan kota terkaya di Asia Tenggara, hal ini seiring dengan kemakmuran perdagangan Kerajaan Sriwijaya.
Selain menjadi pusat perdagangan Timur Jauh, pada masa ini Palembang juga menjadi pusat pengajaran agam Buddha. Para pelajar dari Tiongkok banyak singgah di kota ini untuk mempelajari agama Buddha sebelum melanjutkannya di India.
Pesona Sriwijaya terkenal hingga ke wilayah Asia, mulai dari pesisir Malaysia, China, hingga India dan Arab. Dan umumnya pedagang datang ke Sriwijaya yang berasal dari wilayah tersebut, akhirnya menetap dan tinggal di Palembang.
Sehingga kini bisa dilihat di Palembang terdiri dari beragam suku dan budaya. Sungai musi yang menjadi jalur transportasi dan perdagangan juga menjadi tempat tinggal.
Jika kita lihat, di setiap sisi Sungai Musi ada kelompok berbeda yang mendiami kawasan tersebut. Seperti kawasan Kuto Batu yang dihuni oleh kaum Arab atau orang Palembang menyebut mereka dengan sebutan Ayib.
Jika menyisir ke arah kawasan 16 ilir ataupun Kampung Kapitan, terdapat etnis Tionghoa, yang mendiami kawasan ini. Itu merupakan contoh kecilnya saja. Ada juga penduduk asli “wong Palembang” yang tinggal di kawasan sungai Musi.
Tetapi di balik itu semua, ternyata setiap etnis bisa hidup berdampingan tanpa ada gesekan. Ini yang membuat diriku bersyukur sekali, karena disaat ada daerah lain yang tidak bisa hidup berdampingan bahkan antar warga saling terjadi tawuran. Palembang yang nota bene terkenal kasar, keras , tidak berlaku demikian. Kerukunan antar umat beragama pun terjalin erat.
Hal inilah yang membuat kota ini terbentuk sebagai kota perdagangan, masyarakat yang ramah. Hanya saja, hingga kini tempat hiburan di Palembang masih sangat minim begitupun obyek wisata. Sehingga pengunjung yang datang ke Palembang, bukan untuk berwisata melainkan untuk berdagang, atau melakukan perjalanan bisnis.
Dan lagi – lagi membuktikan Palembang sebagai kota perdagangan, hasil pajak dari sektor perdagangan mampu menyumbang lebih dari 30 persen untuk PAD kota Palembang.
Untuk membuktikan eksistensi kejayaan masa lampau, kini kota ini tengah berbenah dan semakin mempercantik diri untuk menjadi sebuah kota internasional.
Tags: orang palembang, palembang, perdagangan

2 komentar
yaa.. dimajalah SWA juga pernah dibahas kalo palembang termasuk kota yang berkembang sangat cepat ..
saya berharap pemerintah fokus pembangunan infrastruktur yang bisa berdampak sistemik kepada peningkatan pendapatan masyarakat…
popularitas melalui event internasional itu hanya berdampak kecil terhadap pendapatan masyarakat.. yahhh paling yg pemain besar, semacam hotel, dll
Setuju sekali. Memang sejarah Palembang adalah Kota Dagang, maka Pemerintah Kota selayaknya memberikan porsi yang cukup untuk pembinaan para perdagangan. Untuk PAD sektor pedagangan juga cukup tinggi. Karena itu Pemkot mesti memberikan pelayanan untuk pedagang mulai dari mempermudah per izin maupun penempatan. Baik untuk pedagang besar maupun pedagang kaki lima. Jangan ada yang terpinggirkan…