Dan Kini Banjir Lagi

Coba kita keliling kota Palembang, apa yang kita lihat? Saya kira sebagian besar akan menjawab: AIR. Itulah wajah Palembang sekarang ini. Memang tak bisa dipungkiri bahwa faktor geografis Kota Palembang yang berada di daerah rawa dan ditepian sungai Musi akan menjadi penyebab utama kota ini tergenang. Tapi ada satu hal yang mungkin kita lupa, bahwa manusia juga penyebab utama sebuah kondisi terjadi. Hubungan dengan alam sekitar yang serampangan bisa menyebabkan alam berbalik murka. Mari kita renungkan apa yang telah kita lakukan terhadap Kota Palembang.

Sedikit harapan muncul ketika Palembang mengeluarkan Perda tentang Pengelolaan Rawa. Namun setelah beberapa tahun perda tersebut dilaksanakan, kondisi tak jua berubah. Penimbunan berjalan terus dan terjadi di mana-mana. Tak pandang bulu, padahal yang ditimbun adalah tempat penampungan air. Akibatnya Palembang menjadi lautan di kala musim hujan. Tak sedikit kerugian yang terjadi. Teman-teman cobah kita adakan diskusi membedah perda tersebut, apa yang perlu diperbaiki. Yang paling fatal menurut saya, perda tersebut cenderung “memaafkan” orang yang melakukan kesalahan. Banyak orang yang melakukan penimbunan, mengajukan izin setelah pekerjaan selesai. Toh kalaupun ternyata tidak diizinkan, nanti bisa didenda, dari pada sebelum melaksanakan minta izin malah bisa batal. Prinsip ini sekilas menghukum orang yang melanggar, tetapi dengan bentuk denda yang tidak seberapa dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh, tentu orang akan lebih memilih di denda. Coba deh kalau dibatalkan izin membangunnya, tentu orang akan menyelesaikan perizinan terlebih dahulu.

Memang banjir di Palembang tidak semata di sebabkan oleh tereklamasinya rawa-rawa. Tapi bagaimanapun sebagai dataran rendah Palembang akan tetap menjadi tempat penampungan air. Tentu pembangunan di Palembang membutuhkan kearifan yang sangat arif. Perlukah Palembang di design ulang? Ha ha ha….siapa yang mau coba. Berat dong, apalagi kalau ternyata membutuhkan biaya yang sangat besar. Tapi saya kira masih mungkin, misalnya dengan design system drainase, apakah sudah pas atau belum. Kemudian tentukan daerah-daerah yang benar-benar free dari aktifitas pembangunan yang akan menghilangkan rawa dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilaksanakan. Apapun yang bisa kita kerjakan, mari kita kerjakan karena hanya ada dua pilihan: kita mau mulai sekarang ataukah akan berteman terus dengan banjir sepanjang hayat.

Sekian dan tetap sabar bagi yang terkena banjir…………………..

Beri komentar