Beda Budaya

bedabudayaSaya rasa, tetap akan ada unsur cinta dalam tulisan ini. Bagaimana ya, jika Maliq and D’Essentials berkata bahwa ada hal yang lebih penting dari cinta, saya harus tau jawabannya dulu, apa itu yang lebih penting dari cinta, barulah bisa setuju. Saya adalah perempuan yang merelakan dirinya menjadi se-naive-naive-nya, untuk berkata bahwa the most important thing in this entire universe is merely love. Yang akan membuatmu kuat, yang akan membuatmu hebat, yang akan membuatmu penuh, juga rendah hati.

Baiklah, unsure cinta dalam tulisan ini akan terselip dalam ulasan subjektif mengenai budaya. Jawa dan Sumatera. Sudah selama sekian bulan ke belakang saya memperbandingkan dua keluarga, satu keluarga berisi darah-darah Sumatera, yang satu lagi berisikan campuran Jawa dan Sunda. Selama sekian waktu itulah, saya melihat hal yang sangat berlawanan. Cara bicara, intonasi, cara mereka melakukan pendekatan terhadap masalah, dan yang terakhir inilah yang mau saya urai.

Saya begitu kagum dengan cara keluarga Sunda-Jawa ini menghadapi ‘masalah’. Mereka tidak mengambil pedang lalu ambil kuda-kuda untuk mempersiapkan perlawanan. Tapi mereka melebur bersama ‘masalah’ tersebut. Tak ada konfrontasi sama sekali, yang tersisa adalah kompromi yang berbuah manis.

Cobalah kau meminta izin untuk berlibur berdua saja dengan kekasihmu, di kebiasaan Sumatera, tak ada diskusi, kesimpulan bulat berisi larangan adalah harga mati. Akan berbeda di keluarga Jawa campur Sunda, mereka akan membiarkanmu pergi dengan syarat, harus bertiga paling tidak, jika syarat tidak terpenuhi, maka Eyang dan Ibu akan menemani berlibur. Menemani. Kata menemani ini seperti misalnya menyuapkan makanan ke kamu dan kekasihmu ketika energi kalian berdua tertinggal di dasar pantai sehabis diving, mereka mengupaskan mangga untuk kalian, dan membiarkan dirimu dan kekasihmu punya banyak ruang untuk tetap berdua saja menikmati hutan, pasir dan laut.

Saya sangat terkesima dengan cara keluarga Jawa campur Sunda ini menjalani hari-harinya. Berada di tengah mereka, waktu seperti menetes. Semuanya terdengar begitu lembut. Mungkin mereka yakin bahwa tak ada gunanya menghadapi batu dengan batu, karena akan menghasilkan badai. Tak ada yang akan pernah menang dalam perang, karena akan selalu ada kematian, dan menyisakan yang hidup dengan luka juga darah-darah.

Tentu tulisan ini bukanlah studi dengan pendekatan sosiologis kultural antropologis dan sebagainya. Meskipun begitu, fenomena ini pasti bisa dijelaskan dengan mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut di atas secara komprehensif. Padahal, jika dilihat secara folklore Jawa dan Sunda ‘tidak bisa’ disatukan, sesuai dengan peristiwa perang besar di Bubat dimana Patih Gajah Mada menggempur pasukan Sunda yang akhirnya membuat Putri Sunda bunuh diri.

Pendekatan terhadap masalah seperti yang dilakukan oleh keluarga Sunda campur Jawa yang diceritakan di atas, sepertinya harus lebih banyak diteliti dan dipelajari oleh keluarga (saya yang) Sumatera. Bukan berarti harus permisive total, tapi ada penetrasi halus yang tidak akan menghasilkan luka. Di mana semua pihak akan merasakan kesenangan. Bukankah jika hanya satu pihak yang senang, lalu menyisakan pihak lain yang tersakiti, hal itu berbanding lurus dengan pemerkosaan?

Sikap konfrontatif atau sejenis sikap yang ‘kalo nggak suka langsung bilang aja donk, kita beresin’, bukanlah sikap yang sportif. Sportifitas macam apa itu jika berujung pada pertengkaran dan membuahkan permusuhan? Selama ini, kerap kali kita dengar bahwa orang Jawa atau Sunda itu manis di mulut tapi lain di belakang, sementara sifat Sumatera adalah terbuka tapi tidak menyimpan dendam. Saya pikir tidak seperti itu, setelah pertengkaran terjadi, setelah adu mulut terjadi, benarkah diri sama sekali tidak menyimpan dendam dalam hati?

Saya (yang Sumatera) harus banyak belajar dari sopan santun serta kontrol emosi yang dimiliki oleh keluarga Jawa campur Sunda itu. Perlawanan brutal akan selalu sia-sia. Percayalah, ia akan selalu menyisakan sedih, dan luka.

Tags: , ,

Beri komentar