Entah bagaimana lagi bisa bergerak jika kita letakkan terlalu banyak detail estetis dalam sebuah ruang. Atau begini, entah bagaimana lagi bisa melihat ‘yang mana wajahnya’ jika terlalu tebal sapuan bedak lipstick blush on eye shadow shading pada sebuah rupa.
Saya berpikir-pikir di perjalanan kantor tadi, nggak terlalu kaget, saya mendapatkan diri sendiri yang palsu. Tapi saya tidak sendiri. Orang-orang pun palsu. Kemarin saya berlebaran di rumah nenek, namun hati ini tidak berlebaran, hati saya menunggu nunggu kapan tiba waktunya saya duduk di depan komputer menuliskan segala kepalsuan ini.
Saya punya lebih dari satu tante yang baru saja memutuskan untuk berhenti mempertontonkan rambut. Saya pikir mereka mendapat semacam wangsit untuk berjilbab, namun sepertinya ini bukan urusan wahyu seperti mimpi Nabi Ibrahim, ini adalah semacam bentuk kepalsuan yang lain saja. Satu diantara tante itu yang belum genap dua bulan mencanangkan ‘limited people to see my hair’ sekarang sudah mulai berani mengatakan bahwa ‘Jilbab adalah wajib’, saya tak perlu mati matian untuk menahan mulut nyinyir ini untuk mendebatnya, ataupun sekedar berkata ‘kemana aja lo, 35 tahun kebelakang’, paparan dia yang sangat serius mengatakan bahwa keris itu harus diberi bunga, diberi sajen, dimandikan, sudah cukup untuk memuaskan saya.
Yang sebetulnya mau saya keluhkan adalah bagaimana mereka meminta saya untuk melakukan pengulangan-pengulangan memotret mereka dan kepala barunya yang tertutup jilbab. “Tolong bros nya diperlihatkan yaaa,” katanya centil, tapi itu serius, karena jika bros itu tidak terlihat di gambar mampat itu, mereka akan meminta saya mengulang lagi. Ada sekian foto yang siap di upload ke facebook. Ada segudang status yang siap diterakan dan menunggu untuk dipindai. Ada gambar gambar tak bergerak yang warnanya warna warni dengan aksesoris ini itu dibidik dari sudut sophisticated agar terlihat menarik.
Mereka palsu, ujar saya dalam hati. ‘Knock knock knock Vira, hellooo who’s speaking’ Hati saya kemudian bicara kurang lebih begini : “lo pikir lo nggak palsu? Ada berapa banyak foto yang lo remove karena lo terlihat gendut dan dipotret dari sudut jelek?”. Kemudian saya menghela napas tanda amin atas repetan hati sendiri. Saya sadar bahwa saya pun palsu. Perasaan ingin diketahui sebagai sesuatu yang bukan sebenarnya diri itu selalu muncul ketika berhadapan dengan facebook. Facebook, yang saya ingin sebut sebagai miniature kehidupan seseorang, sehingga dengan itu, saya ingin miniature itu terlihat indah, terlihat bagus, prestigious agar dapat mengangkat harkat saya. Pertanyaan kemudian adalah? Ngapain sih perlu diangkat-angkat? Jangan-jangan memang nggak punya harkat?
Lalu mengapa juga saya menulis ini? Jangan-jangan hanya agar terlihat bahwa saya ini orang yang terbuka dan jujur sehingga dengan itu saya dapat dinilai sebagai orang yang, ya itu tadi, terbuka dan jujur. Itu artinya kan saya ini pembohong, bohong karena berpura pura jujur. Lalu bagaimana dengan bohong karena berpura pura bohong?