Merubah kebudayaan itu sulit. Karena kebudayaan ibarat gigi geraham di usia 40 an. Telah mencengkram kuat, mengakar dalam gusi, mencabutnya berarti melibatkan proses berkeringat, dan nggak mudah tentu saja. Kebudayaan melingkupi banyak hal, cara orang berinteraksi, cara orang menghadapi konsumen, cara orang menghadapi orang baru, juga tentu saja cara orang melihat adanya peluang-peluang.
Di Jogjakarta misalnya, seorang abang becak dapat melihat peluang jangka panjang dengan sangat baik. Ia dapat mendeteksi manusia yang bertandang untuk menikmati kota –yang saya analogikan sebagai teh hangat di sore hari- itu. Ia menawarkan 3000 ribu rupiah saja untuk mengelilingi berbagai hal menarik. Tentu angka itu tidak sebanding dengan tenaga yang ia gunakan. Namun ia tahu, dengan begitu, para pendatang akan senang dengan kotanya kemudian akan datang lagi sambil membawa rekan-rekan yang lain, belum lagi word of mouth yang akan menjalar kemana-mana.
Dengan angka rendah tersebut, ia tahu bahwa ia masih akan mendapat keuntungan dari para pengrajin busana Dagadu, khas Jogja, para pengusaha Bakpia, dan jika beruntung, ia akan mendapat bayaran lebih dari si penumpang yang merasa iba dan senang akan dirinya, juga mendapat makan gratis bareng si penumpang. Ya, buat saya, ramah tamah Jogja sampai kini belum ada duanya. Untuk itulah, saya selalu ingin ’membuang’ uang di kota itu.
Tapi lain ladang memang selalu lain belalangnya, saya ingat betul harga pisang lapet di Padang yang menjadi sepuluh ribu rupiah karena si penjual tahu bahwa pisang lapet adalah hal baru buat pendatang. Dengan modal sun glass dan rambut pirang dari sononya, saya dikira bule. Meski saya telah berbahasa Indonesia, harga pisang lapet yang menurut teman asli Padang hanya sekitar 2 hingga 3 ribu rupiah itu, tetap seharga semula, sepuluh ribu rupiah untuk satu pisang yang dipenyet lalu dibakar. Tata krama di sana tak mengena di hati saya, meski Padang cukup indah dengan air terjun dan gunung-gunung, namun tak ada hal yang mendorong untuk kembali lagi. Kenangan akan-nya sudah cukup untuk mencukupkan. Apalagi mungkin ada cerita Siti Nurbaya ya di sana…saya jadi agak gimana gitu.
Palembang? Bagaimana dengan Palembang? Abang becak yang tidak dapat bercerita karena memang tak ada pelatihan untuk itu, Belajar bahasa Inggris terdengar seperti romansa awal Visit Musi dahulu yang menguap begitu saja, pegawai museum ? ahhh..pacar saya akan sangat ingat betul kenangan dimana saya membawanya ke sana, pegawai museum dengan rambut rebonding berseragam safari yang gagap membalikkan kamera. ”Lensanya mengarah ke kami Mbak, bukan mengarah ke Anda,” ujar saya. Lalu dia membalik, eh bukan, memutar 360 derajat kamera itu, lensa tetap mengarah kepadanya hanya kini dengan posisi terbalik saja. Baru posisi nya menjadi benar setelah si pacar memberi contoh dengan seksama kepada dia. Hingga hari ini, pacar saya masih merasa lucu akan hal itu. Mungkin ia berpikir, koq bisa se gaptek itu sih, padahal kerja di museum yang letaknya di dinas pariwisata. Tapi ia tak pernah mengucapkannya, mungkin takut, saya, yang adalah warga Palembang, menjadi tersinggung.
Saya yang sudah sekian tahun bermukim, mencari uang dan bergaul di Palembang, bahkan masih kebingungan tentang kota ini. Teman mungkin akan mengingatkan saya dengan sebuah pribahasa ”gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang laut bisa kelihatan” saya terlalu melebih lebihkan kota lain sementara kelebihan kota sendiri dinafikkan. Benarkah begitu kawan? Apakah kebingungan itu sebetulnya tak berdasar? Batam jelas mengarah menjadi kota perdagangan, Jogjakarta jelas menjadi kota pelajar karena tempat sekolah yang begitu musim, seperti cendawan di kala hujan, Bandung kota kembang dengan arti yang paling terang, sepanjang jalan menuju Tahu Tauhiid di Lembang adalah kembang warna warni yang tersusun rapi, Bali menjadi kota wisata yang (sudahlah) bahkan orang lebih mengenal Bali daripada Indonesia.
Palembang? Kota wisata kah? Wisata apa? Yakinkah bahwa pulau kemaro bisa dijadikan objek yang menjanjikan? Yakinkah Ampera akan menarik jika kini sudah ada jembatan Suramadu? Apakah dengan ’tata krama’ yang dimiliki oleh ’kita’ saat ini dapat meninggalkan kenangan yang baik bagi para pelancong? Palembang itu, sudah tidur di pukul 10. Apa ada restoran 24 jam yang asik untuk nongkrong? Apakah kita akan menjawab, ’ada donk yang 24 jam, McD’ kepada turis asal Amerika atau Jakarta dimana di tempatnya pasti sudah ada burger yang jauh lebih canggih.
Teman-teman yang baik, saya bertanya agar kita tahu permasalahan, agar bisa menentukan jalan keluar yang bagus untuk itu. Lagipula, sekarang sudah pukul 23 : 40, kopi tinggal seperempat gelas, entah kenapa kopi dingin terasa menjadi begitu manis. Setelah ini tv akan saya nyalakan, Pal TV mungkin sudah habis jam tayangnya, tak ada Sriwijaya tv di rumah ini, channel itu tampak sulit ditembus. Kalo nggak salah ada prison break di RCTI. Pilem luar negri….memang masih belum ada tandingannya. Saya nonton dulu ya….dadah….
3 komentar
Saya bukan orang Palembang. Hanya karena tuntutan pekerjaan mengharuskan saya untuk tinggal di sini sejak tahun 2006. Di sinilah akhirnya saya berkeluarga, mempunyai rumah, bahkan anak saya pun terlahir di sini…
Tapi tetap saja, buat saya Palembang bukan tempat yang nyaman…
Hampir tak ada objek wisata menarik yang ditawarkan tempat ini.
Fantasi Island…oh pleasee… it’s so dirty and so uninteresting.
Sungai Musi dengan jembatan Amperanya??? Yah…apa yang bisa dilakukan di situ? Sungainya kotor. Resto2 di sepanjang sungai ini pun hanya menjual pemandangan yang sebenarnya tak seberapa saja… Ampera hanya cantik di malam hari ketika dihiasi oleh lampu warna warni (tks to PLN for this
).
Plaza BKB??? Untuk sering2 duduk2 di situ pas sore ato pagi hari bosen juga kali’, secara tidak ada hal menarik yang bisa didapat…
Punti Kayu?? Kayaknya bagusnya cm untuk sbg lokasi prewed aja, he he
Wisata belanja??? Dimana??????
Pusat keramaian semacam mall2 pun menurut saya masih sangat kurang baik dari segi penataan maupun kenyamanannya…
Belum lagi transportasi umum yang kurang memadai dan sangat kurang nyaman di sini. Trans Musi bisa dikatakan hampir terlambat hadir, secara banyak kota2 lain *termasuk kota asal saya, Manado* yang notabene lebih kecil dr kota ini sudah terlebih dahulu memiliki bus2 trans.
Well, there are so many changes we need to make Palembang a comfort city to be visited. Objek2 wisata perlu ditambah lagi dan perlu diberi banyak pemanis terhadap objek2 wisata yang ada sekarang ini agar orang lebih tertarik untuk datang.
Palembang perlu dikelola secara profesional. Budaya orang2nya perlu diubah, terutama menyangkut keamanan dan kenyamanan. Sebagai pendatang, saya sangat kecewa, karena saya pernah mengalami perampokan plus penusukan… Saya juga pernah menjadi saksi mata perampokan yang terjadi pas di depan Rumah Dinas Pejabat Kodim yang waktu itu lagi dijaga ketat oleh puluhan petugas!!! Benar2 merupakan sebuah gambaran betapa perampok sangat berjaya di kota ini…
Pertama kali datang ke sini, banyak yang memperingatkan saya.
“Hati2, di palembang banyak kejahatan…tuh, nonton aja di tivi selalu saja ada berita kriminal dari sana.”
Begitu tiba di sini, yupe, benar, saya bahkan mengalami sendiri kejahatan itu…
Dan ternyata, tak hanya kejahatan yang ‘katanya’ membudaya di sini, di awal saya tiba di sini, orang2 kantor *yang notabene adalah wong plembang asli* memperingatkan saya.
“Hati2 ya di sini…jangan terlalu menonjolkan diri, krn wong sini budayanyo SOS : Senang Liat Orang Susah, Susah Liat Orang Senang”
Itu orang asli sini lho yang bilang…
Well, saya bukan orang Palembang, tapi saya berusaha mencintai kota ini, karena di sinilah anak saya terlahir dan mungkin hingga selama beberapa tahun ke depan, di kota inilah ia akan tumbuh… Karena itu saya berharap banyak dari kota ini, saya berharap kota ini mengalami banyak perubahan, tidak hanya dari segi pembangunan tapi juga dari budaya dalam keseharian…
terima kasih atas kejujuran mbak alissa, sebagai Marketing dan PR dari epalembang saya sangat merasakan ada sedikit panggilan di hati saya.. karena inilah tugas yang harus saya perjuangkan
Semua yang anda katakan itu benar adanya.. kebetulan teman kerja saya juga banyak dr luar kota palembang semua…jadi hal seperti ini sering saya rasakan..
lalu.. saya berpikir untuk bagaimana memperbaiki hal2 tersebut. Langkah pertama saya adalah mereka mengenal lingkungan keluarga saya dulu.. alhamdulillah sampai saat ini positif di mata mereka
yang kedua.. lalu saya terlibat dlm pendirian komunitas blogger wongkito.net (sbg HUMAS), krn berpikir semoga blogger palembang ini menjadi evangelist yg baik untuk kotanya..
lalu yg terakhir … dan jawaban untuk cerita anda diatas, adanya blog epalembang ini.. kami berniat untuk mengajak selurah pemuda palembang untuk membangun imej baik kota ini supaya tersebar ideavirus yg positif untuk masyarakat kota palembang
mari kita menulis idea, pemikiran dan hal-hal yg mencerahkan untuk mempengaruhi yang membaca.
merubah budaya itu lebih sulit daripada memperbaiki kemiskinan.. tp kita bisa mulai dari yg terkecil, semua pasti ada massanya.
Menurutku .. Masyarakat Palembang sekarang sudah mulai bergerak memperbaiki citranya sendiri.. setiap tahun ada ratusan mahasiswa kita yg tinggal di luar kota dan negara lain.
ada ratusan juga percampuran budaya melalui pernikahan dan sebagainya .. semua akan melebur membentuk sebuah budaya atau karakter yg baru.
yuukkk ! kita bersama merubah citra itu dengan menulis disini
sesuai tema yg kami pilih untuk web ini “Palembang Tomorrow” kami ingin mengajak untuk fokus ke depan. memperbaiki yg buruk dan membuat sebuah karya yg positif
Salam kenal bu Alissa
isi blognya unik .. i like it
Allisa,
anda pernah mengalami perampokan dan penusukan? anda sebagai korban, atau anda ‘mengalami’ sebagai orang yang dekat dengan korban?
same here, when i was elemantary, i witness a murder. it was very close because it happened in front of me.
frankly speaking, i dont know how to change a culture. of course its like what jafis said that it must be much tougher than overcoming poverty.
im not sure palembang is potential of tourism. No, we dont have a uniqe thing to sell, i doubt about sungai musi etc… but it would be different if we talk about pagaralam. i prever to say palembang is a good city for trading goods and services, we can look forward to Medan about how to manage a trading city.
yes, the government plays a big role to bring this city out from its backwardness. why government? why not us? because they have the power and the cash. so, what we should do to help them? just be ‘a pain in their ass’…watch them! criticize them!….