Transexual Nadia

Saya sepakat bahwa hidup ini masalah kebahagian yang harus dicari. untuk itu, mempertimbangkan orang lain dalam kebahagiaan personal malah akan membuat tersesat proses membahagiakan diri. Oh please, jangan memaknakan dua kalimat itu dengan “kalau begitu orang bebas saja korupsi asal bahagia”. Bukan! kebahagiaan personal yang dimaksud bukan yang akan memberi ‘dampak sistemik’.

Tadi malam saya menyaksikan Tina Talisa di TVOne mewawancara Nadia Ilmira Arkadia. Satu lagi manusia transexual di Indonesia.Melakukan transformasi kelamin pria menjadi wanita. Ia mersa dirinya adalah perempuan yang terjebak di tubuh laki-laki, untuk itulah ia merasakan ketidaknyamanan lantas hal itu menjadi ketidakbahagiaan buat Agus, ketika ia belum menjadi Nadia.

* * *

Sudah lama sekali saya membaca buku ‘Pria Tanpa Penis’. Kisah nyata tentang bayi laki-laki yang dibesarkan (dengan segala tetek bengek boneka dan baju bunga-bunga) sebagai perempuan karena penisnya terbakar ketika proses circumcision hingga akhirnya ia sadar bahwa ia adalah laki-laki dan akhirnya ketika dewasa ia meminta untuk menjadi laki-laki kembali, meski tanpa penis.

Simone de Beauvoir famously claimed that one is not born, but rather becomes a woman, and that “social discrimination produces in women moral and intellectual effects so profound that they appear to be caused by nature. Namun buku yang saya baca itu adalah sebuah pengalaman pribadi yang mematahkan argumen perempuan garda depan dalam gerakan feminist itu, Simone de Beauvoir, yang menyatakan bahwa seorang manusia tidak terlahir sebagai ‘wanita’, namun pola pengasuhan lah yang menyebabkan seseorang menjadi ‘wanita’.

Saya percaya bahwa Agus diasuh selayaknya laki-laki. Jika menggunakan feminist perspective, maka tidak seharusnya ada ‘gejolak’ dalam diri Agus. begitu juga dengan buku yang saya baca itu, tidak seharusnya laki-laki yang dibesarkan sebagai perempuan tersebut memberontak untuk kembali mematuhi sifat-sifat gen kelelakian dirinya.

lantas apakah itu saya setuju dengan pandangan mainstream bahwa psychological and behavioural traits were caused by metabolic state dengan demikian saya menentang feminisme ? saya tidak tau. saya begitu cair kali ini dalam menentukan sikap. saya tidak sepakat tentang ide bahwa perempuan adalah mahkluk inferior dibandingkan laki-laki namun saya sepakat bahwa sebaiknya laki-laki memberi saya tempat duduk dalam bis yang padat. so you go figure

* * *

Kembali ke Tina Talisa, ketika ia bertanya-jawab dengan Nadia, akhirnya saya dikecewakan oleh Tina yang saya puja itu, Tina mempertanyakan perspektive agama dalam sebuah tanya-jawab yang seharusnya bebas dari persoalan keagamaan yang (ini dia kalimat favorit saya) adalah hubungan vertikal manusia dan tuhan. Saya sangat menyayangkan Tina yang ingin mengorek wilayah transneden Nadia dan tuhan yang sama sekali bukan kapasistas Tina dan juga seluruh umat bumi ini untuk mengetahuinya.

Saya salut dengan Nadia yang menjawab lugas “Alangkah piciknya jika saya harus merubah agama hanya agar dapat diterima. ada kebaikan yang bisa saya lakukan”, ujar Nadia mantap.

Masalahnya adalah kita nggak punya ‘problem’ ketidaknyamanan dan tidak merasa terjebak di tubuh yang salah. Masalahnya adalah kita berada di jalur arus banyak dan bukan sebaliknya. Masalahnya adalah agama adalah alat paling ampuh untuk melegitimasi.

Masalahnya adalah pramugari pesawat akan bilang bahwa selamatkan diri dulu baru selamatkan anak kita. Carilah kebahagiaan sampai ke negri Cina, atau kemana saja, asal tidak ada dampak sistemik, itu yang perlu jadi catatan. bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain jika kita tidak mampu menyelamatkan diri sendiri? (baca: bagaimana kita bisa membahagiakan orang lain jika diri sendiri tersesat dalam ketidakbahagiaan).

4 komentar

  1. saya kurang sepakat bila kebahagian itu harus dicari atau ditemukan. kebahagian itu adalah personal. rasa itu muncul dari standar yg diciptakan oleh individu bukan general. ada yg bahagia bila punya rumah seharga 1 milyar. namun tak sedikit yg merasa bahwa punya rumah dengan nilai 1 milyar masih belum apa-apa.

    saya ingat dulu waktu KKN semasa kuliah. cukup banyak teman2 yg merasa bahagia bisa mandi dan menggosok gigi dengan air sungai yang mengalir. namun ada yg merasa tersiksa dengan kondisi seperti itu. dia baru bahagia bila menggosok gigi dengan air mineral yg dibawa sendiri dari rumah.

    meski kebahagian itu bersifat personal, namun tetap ada aturan atau norma yang berlaku. kebahagian yg melawan kodrat itu adalah penyakit. contoh, ada orang yg bahagia bila dia mengutil di pasar swalayan. ada yang bahagia bila berhasil memotong temannya menjadi 13 bagian, atau ada yg bahagia bila berhasil korupsi. nah bila itu yg dimaksud, jelas itu bertentangan dengan aturan dan norma yang berlaku.

    bila kita bicara aturan dan norma, tentu tak akan lepas dari hubungan antara manusia dengan tuhannya. karena sumber aturan yg hakiki memang berada di sana. aturan yg dibuat manusia bisa saja bertentangan dengan hati nurani.

    kembali ke persoalan transeksual, saya hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah penyakit psikokogi. jiwanya yg terserang stroke. tidak mungkin tuhan yang maha sempurna salah meletakkan jiwa perempuan di dalam tubuh laki-laki atau sebaliknya.

    bagaimana menyembuhkannya ? sekali lagi, hanya domain keimananlah yg mampu membuatnya terbebas dari perasaan seperti itu. sepengetahuan saya, tidak ada cara lain yg mampu menyembuhkan kondisi seperti itu …

    • Saya agak setuju dengan pendapat penulis dan pendapat komentator. Masalah ini memang cukup kompleks, di satu sisi memang sesungguhnya sangat sulit sekali untuk menghindari perasaan atau sifat yang dominan. Namun bagaimanapun juga saya percaya jika kita sebagai makhluk ciptaan-Nya sesungguhnya diberi kemampuan untuk mengendalikan perasaan kita sendiri. Jika merasa tak mampu untuk mengendalikannya, maka saya rasa pendekatan diri kepada Sang Pencipta adalah jawabannya.
      Buat Blog

  2. M. Farhan

    Sangat tidak mendukung tindakan si Agus

  3. Saya bersikap antara mendukung dan tidak mendukung sikap Agus untuk menjadi seorang Nadia, kenapa?? karena yg menjalani hidup ini hanya dia sendiri yg merasakannya, dan dalam masalah ini tergantung keinginan dari si Agus itu sendiri, jadi kalo dia lebih enjoy sebagai Nadia daripada sebagai Agus SO WHAT GITU LOH, artinya tindakan yg diambilnya merupakan suatu keputusan murni dari dlm dirinya yg tidak bisa ditawar lagi karena dia lebih senang dengan karakternya sebagai seorang wanita walaupun kodratnya sangat jelas dia terlahir ke dunia ini sebagai laki-laki tulen, toh nantinya dia sendiri yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Sang Pencipta.

Beri komentar