Sriwijaya Post edisi kemarin, 6 Maret 2010, membuat headline tegas BUSKOTA VS TRANSMUSI, yang sangat saya sayangkan. Alih-alih menggunakan ‘versus’, mengapa tidak digunakan kata ‘dan’ agar tidak menimbulkan kesan bertanding. Penggunakan ‘VS’ di sana bisa jadi memperuncing permasalahan yang pasti muncul terkait mulai beroperasinya Transmusi di Palembang. Mengapa buskota dan transmusi bagai didudukkan sebagai lawan? padahal keduanya hadir untuk publik.
Saya sejak awal menyambut antusias hadirnya Transmusi. Meski Bus Rapid Transit ini sudah menuai kritik dan pandangan pesimis, bahkan mulai di tataran ide. Tidak jarang saya mendengar orang mengatakan ini “Ah, paling-paling itu nanti halte satu bulan dua bulan sudah hancur, kaca pecah, dijadikan rumah oleh para gelandangan” dan estimasi pesimis lain. Mengapa harus berpikir yang jelek jika ada kemungkinan lain seperti : “Asyik ada halte, kalau hujan bisa berteduh, wah haltenya harus kita jaga nih biar Palembang bisa keren”, Pola berpikir seperti ini sama juga kan? gratis dan tidak perlu usaha keras. Saya yakin bahwa pikiran yang dilontarkan akan menjadi semacam magis yang berpotensi untuk mewujudkan harapan.
Saya menganggap hadirnya Transmusi sebagai katalisator bagi eksistensi buskota yang sudah mapan. Jika sopir bus kota mengeluhkan pendapatannya yang berkurang akibat hadirnya Transmusi, saya bersyukur sopir bus kota mengeluh! Sekalian berpikir bahwa hal itu tampak tak masuk akal. Tak masuk akal karena disparitas jumlah buskota dan transmusi yang sangat timpang. Jumlah Transmusi sebanyak 20 bus sementara bus kota 464! Jikapun menurun, tentulah tidak sesignifikan itu.
Sebagai katalisator, Transmusi bertindak sebagai tempat bercermin bagi bus kota. ‘Wah ada Transmusi, ayo bus kota berbenah agar masyarakat nggak meninggalkan bus kota‘. Transmusi yang bersih akan memicu bus kota untuk meningkatkan kenyamanan dengan membersihkan juga bus-nya, melepas stiker yang menghalangi pemandangan baik dari luar ke dalam dan sebaliknya, tidak membiarkan penumpang merokok dan menghentikan kebiasaan memutar lagu yang bikin jantung degdegan dan memekakkan telinga. Hal ini tentu baik untuk perkembangan sistem transportasi di Palembang, akhirnya, kita sebagai konsumen yang akan merasakan untung.
Dengan hadirnya transmusi juga, bisa jadi Bus Kota akan melakukan strategi marketing misalnya dengan menurunkan tarif angkut. Yang sebelumnya Rp. 2.500 menjadi Rp.2000 saja, atau bisa jadi mereka akan menyediakan satu permen bagi setiap penumpang. Jadi ketika penumpang turun memberikan ongkos, Bus Kota memberi bonus permen. Menarik kan? ada yang mau memberi tahu ide ini kepada Bus Kota?
4 komentar
Ralat soal tarif angkut dikit, strategi maketing 2000 rupiah itu udah lama diterapkan khususnya oleh kondektur bus kota, tetapi “trik” licik lama mereka juga tetap jalan, yaitu apabila ada penumpang bayar pake uang 5 atau 10 ribuan maka beberapa dari mereka akan memberikan kembalian 2 atau 7 ribu saja dengan alasan klasik gak ada uang 500an. Mungkin “kondisi” itu yg perlu dibenahi sebagai awalnya, tapi saya pribadi memang lebih suka istilah versus, karena toh pada akhirnya bus kota akan dihapuskan
*peminat dan penikmat trans musi yg menyedihkan sedikitnya tempat duduk di trans musi sekarang ini.
menurut manager BRT Transmusi, jumlah buskota di Palembang yang ideal adalah sekitar 200 something, jadi, jumlah bis kota saat ini sudah terlalu banyak. Kedepan juga bahwa pengadaan BRT Transmusi ini dibuka untuk pihak swastwa, sehingga mereka tidak perlu takut mengenai penghapusan bus lama, karena mereka tetep akan punya bisnis di bidang yang sama.
ada yang tahu berapa jauh ya jarak antar halte ?
saya cuma bingung aja, dari Terminal Sako ke pertigaan Celentang cuma ada 1 halte. padahal jaraknya lebih dari 3 km, sedang dari pertigaan Celentang ke halte berikutnya (deket kantor PLN) gak nyampe 1 km.
sampe sekarang belum juga naik trans musi …